Benarkah Penggunaan AI dapat mengurangi jumlah air di bumi?

Baru-baru ini ramai diperbincangkan mengenai dampak besar penggunaan AI (Artificial Intelligence) bagi bumi karena sifatnya yang haus energi dan boros air.

Menurut artikel yang ditulis pada laman Telkom University Jakarta oleh Siti Zakiyah proses melatih model AI agar jadi pintar (training) membutuhkan daya komputasi yang luar biasa masif. Jejak karbon yang dihasilkan bisa setara dengan emisi lima mobil yang dipakai seumur hidup. Kebanyakan pusat data di dunia masih ditenagai oleh listrik dari pembakaran bahan bakar fosil. Selain itu, server-server ini juga cepat panas dan butuh pendingin ekstra. Sistem pendinginnya seringkali menggunakan air bersih dalam jumlah yang fantastis.

Begitupun yang dituliskan pada laman UNEP berdasarkan hasil sidang bulan Desember dengan topik pembahasannya adalah dampak lingkungan yang semakin meningkat dari kecerdasan buatan. Menurutnya, ada sisi negatif dari ledakan AI dan infrastruktur terkaitnya, menurut sejumlah penelitian yang terus berkembang. Pusat data yang semakin banyak menampung server AI menghasilkan limbah elektronik. Mereka merupakan konsumen air yang besar, yang semakin langka di banyak tempat. Mereka bergantung pada mineral penting dan unsur langka, yang sering kali ditambang secara tidak berkelanjutan. Dan mereka menggunakan listrik dalam jumlah besasr, yang memicu emisi gas rumah kaca yang menyebabkan pemannasan global.